VISI:

Menjadi Organisasi Profesi yang profesional sebagai Mitra Pemerintah Dalam Bidang Pendidikan, Pelestarian Dan Pengembangan Seni Budaya Khususnya Bidang Seni Tata Rias Pengantin Serta Upacara Adat Istiadatnya


MISI:

  1. Menggali dan melestarikan ragam seni budaya Tata Rias Pengantin Nusantara
  2. Mengembangkan seni budaya Tata Rias Pengantin serta adat istiadatnya sesuai dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan tradisi budaya daerah
  3. Mensosialisasikan ragam seni budaya Tata Rias Pengantin dan adat istiadatnya
  4. Meningkatkan mutu sumber daya perias pengantin agar memiliki karakter baik, mandiri, kompeten dan profesional guna menunjang pembangunan Nasional
  5. Menggalang persatuan dan kesatuan para perias pengantin dalam suasana kekeluargaan berdasarkan musyawarah dan mufakat
  6. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dengan mempelajari Tata Rias Pengantin Internasional
  7. Menghimpun aspirasi para anggota dalam mengembangkan bakat, kemampuan dan ketrampilan

Seminar dan Lomba Ngadi Saliro & Ngadi Busono DPC Harpi Melati Kota Bandar Lampung dalam rangka memperingati Hari Kartini Tahun 2013 tanggal 30 April 2013 di Hotel Kurnia 2 Bandar Lampung


DUH, CANTIKNYA...: Para peserta lomba ngadi saliro dan ngadi busono. FOTO ANGGI RHAISA

Trilogi Kecantikan Total  
Ngadi saliro dan ngadi busono merupakan falsafah Jawa tentang perawatan kecantikan yang menyeluruh (total beauty) yang terdiri atas trilogi keanggunan perempuan Indonesia. Yaitu ngadi saliro, ngadi busono, dan tata krama. Kata ngadi saliro dan ngadi busono berasal dari Sanskerta yang artinya mempercantik diri serta memperindah busana.

Dewan Juri sedang mengumumkan hasil lomba
”Sedangkan tata krama mencakup pengertian pembinaan mengenai tata pergaulan dan perilaku perempuan sebagai ibu rumah tangga,” kata Ketua DPC Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati Bandarlampung Sutarti Sutarsum dalam seminar serta lomba ngadi saliro dan ngadi busono di Hotel Kurnia 2, Bandarlampung, kemarin.
Sekretaris DPD HARPI Melati Provinsi Lampung Laila Al-Khusna menambahkan, selain trilogi di atas, masih ada satu konsep bagi perempuan. Yakni wiraga yang menjelaskan tentang cara sikap tubuh yang baik dan benar.
”Dalam berbusana, sebaiknya sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Dalam bersikap, sebaiknya kita bisa menunjukkan tubuh yang baik dan benar agar membuat tampilan anggun, menarik, yakin, serta berwibawa. Selain itu, membuat tampak lebih muda dan menunjang kesehatan,” ujar Laila.
Sementara Ketua DPD Ikatan Pengembangan Kepribadian Indonesia (Ipprisia) Lampung Hernaini Nasrullah mengatakan, keserasian seseorang, khususnya perempuan, bukan dilihat dari wajah. Tapi, dilihat melalui  penampilan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sementara karakter seseorang bisa berubah.
”Jika karakter buruk, namun berada di lingkungan yang baik, bisa membuat karakter kita menjadi lebih baik dari sebelumnya,” ungkap Hernaini ketika menjadi narasumber dalam seminar dengan peserta Lembaga Kursus Pendidikan (LKP) Perias Pengantin dan Umum itu.
Direktur Pelaksana LPBM Teknokrat ini menyarankan kepada para penata rias agar dalam membuka usaha terlebih dahulu harus mempunyai kepribadian dan karakteristik tersendiri. Sehingga, itulah yang akan menjadi daya tarik konsumen. Jika pelanggan puas, ia akan terus bertahan. Setidaknya merekomendasikan rekannya.
”Ingat! Sekali gagal, biasanya kita tidak akan dipercaya oleh konsumen. Apalagi khusus rias pengantin, mana ada pengantin yang mau dua kali dirias?” candanya kepada para peserta seminar.
    Jadi, lanjutnya, kesan pertama adalah abadi karena dibentuk dalam sepuluh detik pertama dari suatu pertemuan. Seseorang dinilai  dari kesan pertama, di mana 55 persen penampilan dan bahasa tubuh serta 7 persen kalimat yang diberikan kepada pelanggan. Selebihnya adalah kecantikan yang terpancar dari dalam diri.
Dosen sekaligus tim pengembangan kepribadian Perguruan Tinggi Teknokrat, Tien Yulianti, menambahkan, dalam melayani pelanggan, sebaiknya hindari 3B. Yakni BK (bau kaki), BM (bau mulut), dan BB (bau badan). Bagi pemula, jangan sungkan belajar kepada yang berpengalaman sehingga bisa menjadi tenaga profesional.
    Selain seminar, acara kemarin juga memberikan materi tentang cara mengenakan kain wiron. Yakni mengenakan kain batik yang salah satu ujungnya diwiru atau dilipat-lipat seperti kipas. Biasanya dipakai sebagai setelan dari kebaya. Juga terdapat beauty class oleh tim dari Sari Ayu Martha Tilaar  menggunakan makeup natural.
    Di akhir acara terdapat perlombaan ngadi saliro dan ngadi busono yang berlangsung seru. Perlombaan dibagi menjadi dua kategori, yaitu bersanggul dengan usia 31–50 tahun dan kategori jilbab 17–30 tahun. Waktu yang diberikan kepada peserta hanya 45 menit. Terbayang kan serunya seperti apa? (cw1/p6/c2/dna)
 Radar Lampung - Rabu, 1 Mei 2013  




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar