VISI:

Menjadi Organisasi Profesi yang profesional sebagai Mitra Pemerintah Dalam Bidang Pendidikan, Pelestarian Dan Pengembangan Seni Budaya Khususnya Bidang Seni Tata Rias Pengantin Serta Upacara Adat Istiadatnya


MISI:

  1. Menggali dan melestarikan ragam seni budaya Tata Rias Pengantin Nusantara
  2. Mengembangkan seni budaya Tata Rias Pengantin serta adat istiadatnya sesuai dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan tradisi budaya daerah
  3. Mensosialisasikan ragam seni budaya Tata Rias Pengantin dan adat istiadatnya
  4. Meningkatkan mutu sumber daya perias pengantin agar memiliki karakter baik, mandiri, kompeten dan profesional guna menunjang pembangunan Nasional
  5. Menggalang persatuan dan kesatuan para perias pengantin dalam suasana kekeluargaan berdasarkan musyawarah dan mufakat
  6. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dengan mempelajari Tata Rias Pengantin Internasional
  7. Menghimpun aspirasi para anggota dalam mengembangkan bakat, kemampuan dan ketrampilan

7 Mutiara Menuju Kebahagiaan Rumah Tangga(Nasehat Perkawinan)


Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. [QS. Ar-Rum ayat 21]

Hadis Nabi saw : Pernikahan adalah perbuatan yang selalu diinginkan dan didambakan oleh setiap manusia yang hidup. Pernikahan itu adalah sunnah Nabi, maka barang siapa yang tidak melaksanakan nikah, kata Nabi saw bukan golongannya. Pernikahan harus didasarkan pada agama, ibadah, dan menjalankan sunnah Nabi saw, dan bukan didasarkan pada nafsu belaka atau didasarkan tujuan lain yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.
Pernikahan harus atas dasar suka sama suka, saling cinta, bukan dasar paksaan, dan bersandar pada ibadah kepada Allah. Sebab, dalam menjalani kehidupan bahtera rumah tangga, bagaikan orang mengarungi samudra luas dan penuh dengan gelombang, pada siang, malam, panas dan hujan bahkan badai dan genlombang harus dilalui. Mungkin saja, cuaca tidak bersahabat yang tidak pernah kita prediksi yang dapat saja datang secara tiba-tiba.Kita harus selalu siap untuk menghadapi dan selalu mengantisipasi setiap perubahan. Maka, apabila seseorang dalan menjalankan rumah tangga tidak memiliki dasar, pedoman, mesti akan terombang-ambing dalam perjalanan rumah tangganya.
Dalam berumah tangga, kita akan melalui perjalanan panjang dan sangat melelahkan dengan tujuan untuk mecapai “pantai kebahagiaan” yang sakinah dan diridhoi Allah..
Untuk mencapai “pantai kebahagian” tersebut, tentu saja kita harus:
[1] mempersiapkan diri dan mental, baik suami maupun istri,
[2] mempersiapkan berbagai keperluan dan bekal agar perjalanan kita terasa aman, nyaman, dan lancer, sebab apabila datang badai dan gelombang, kita akan siap menghadapinya dengan sikap tenang, tidak grogi, tidak takut dan tidak gentar sekalipun dahsatnya badai dan gelombang tersebut, sebab kita memiliki dasar [agama] dan pedoman [al-Qur’an dan Hadis].
Untuk mengarungi perjalanan [rumah tangga] itu dengan baik dan lancar, kita perlu mempersiapkan :
Pertama, kapal [rumah tangga] yang kokoh agar tidak macet dalam perjalanan.
Kedua, mesin yang betul-betul baik.
Ketiga, bahan bakar yang cukup dan memadai.
Keempat, membawa peta dan kompas sebagai pedoman perjalanan agar tidak sesat dalam perjalanan. Kelima, membawa peralatan yang memadai untuk mengantipasi macet.
Keenam, nahkoda yang pandai, lihai, dan memiliki strategi untuk mengemudi kapal.
Ketujuh, membawa bekal yang cukup dalam perjalanan.

Pertama :
Rumah Tangga, bagaikan kapal [bahtera] yang kokoh. Rumah tangga, harus dibangun atas dasar taqwa, cinta, suka sama suka dan didukung dengan kedua belah pihak keluarga yang merestui serta mengharapkan ridho Ilahi. Selain itu, harus mempunyai niat dan kebulatan tekad untuk berumah tangga atas dasar lillahita’ala, dengan ibadah [salat] – Insya Allah, rumah tangga akan kokoh. Berumah tangga itu sendiri juga sebagai perilaku ibadah kepada Allah dan menjalankan sunnah Nabi saw

Kedua :
Hati, sebagai mesin yang bagus. Artinya, suami istri harus punya tujuan yang sama. Berumah tangga bukan untuk hanya sekedar melepas nafsu birahi, melainkan harus memiliki tujuan untuk mencetak generasi-generasi bangsa yang baik, kuat dan tanggung serta bertaqwa kepada Allah swt. Tanpa punya perasaan sehati, mungkin saja tujuan tidak akan tercapai. Maka dengan dasar ini, suami istri harus tahun kepribadian masing-masing dan inilah yang dinamakan ta’aruf.

Ketiga :
Akhlak, sebaga bahan bakar. Dalam berumah tangga, apabila hanya berbekal atau memiliki cinta dan perasaan saja, tanpa dibekali dan atau dibarengi dengan akhlak mulia, jangan berandai-andai untuk dapat menguasai medan perjuangan yang berat itu. Akhlak adalah pondasi utama dalam beragama, kata Abul Atahiyah :, artinya ”tidaklah dikatakan dunia kecuali dengan agama dan tidaklah dikatakan agama kecuali dengan akhlak mulia”. Maka, kita harus membangun rumah tangga dengan akhlak yang muliah. Akhlak sebagi pondasi utama untuk membangun rumah tangga. Prinsip akhlak disini adalah saling menghargai, menghormati, menyayangi, penuh dengan senyum. Sifat ini dinamakan tabassum [التبسم] dan sifat ini sangat dianjurkan Rasulullah saw.

Keempat :
sebagai peta dan kompas. Sebagai pedoman agar tidak tersesat dalam perjalanan dan ketika menemukan kesulitan, keresahaan, bacalah al-Qur’an dan kemudian kembalikan atau pasrah kepada Allah. Suami dan istri harus saling mengingatkan dan ta’awun atau kerjasama dalam menghadapi kesulitan hidup. Semua persoalan harus diselesaikan berdua dan selalu pasrah kepada Allah. Kata Baihaki, , ingat pada Allah sebagai obat, dan ingat pada manusia penyakit.

Kelima :
Nasehat, sebagai peralatan yang dibawa dalam perjlanan. Agama adalah nasehat, maka kembali kepada ajaran agama Islam dalam menghadapi setiap persoalan, sehingga mudah terselesaikan. Maka dalam kehidupan rumah tangga, sepenuh apapun perasaan cinta suami pada istri atau sebaliknya, kesalah fahaman dan perselisihan [baik kecil maupun besar] mesti ada. Suami dan istri harus saling mengingatkan, saling menasihati dengan sabar antara keduanya untuk mencapai kebaikan  dan bernasehatlah dalam kebaikan dan kesabaran ) atau mungkin kita butuh nasehat-nasehat orang tua, ustadz, tokoh masyarakat, atau orang yang lebih berpengalaman, sebagai obat pencerahan untuk mencapai tujuan hidup yang mungkin salah dilakukan oleh kita. Maka, setelah mendapatkan nasehat-nasehat akan tumbuh saling percaya, saling memaafkan, dan menghargai kesalah fahaman itu. Sikap ini dinamakan takarrum atau saling menghargai.

Keenam :
Suami, sebagai nahkoda yang lihai. Suami harus pandai memainkan peranan, dapat menjadi panutan, cerdas melihat situasi, agar penumpang atau orang yang bersamanya merasa aman, tenang dan nyaman. Seorang suami harus memiliki ikhtiar dalam menjalankan perannya, sehingga seburuk apapun situasi dan kondisi yang dihadapinya, harus tenang, sabar, dan berserah diri pada Allah, “mereka mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya”. Maka perumpamaan seorang suami, seperti seorang nahkoda yang menghadapi cuaca yang buruk. Dia harus tetap tenang untuk mencapai tujuan, maka secara perlahan-lahan tapi pasti dia akan lalui badai tersebut dan seluruh penumpang pasti akan menghormati dan menghargainya. Penghargaan itu akan datang dengan sendirinya, mungkin saja berupa ucapan terima kasih, mungkin ciuman, pelukan, bahkan dengan kepasrahan diri penumpang dan penumpang tersebut tiada lain adalah istri. Sikap ini dinamakan tala’ub.

Ketujuh :
Kepasrahan, sebagai bekal yang cukup. Dalam menjalani kehidupan rumah tangga, kita harus banyak berusaha [bekerja] dan berdo’a  carilah anugrah Allah untuk kehidupan akhirat, tetapi jangan lupa nasib(bagian)mu untuk kehidupan dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik padamu”. Karena usaha atau bekerja tanpa do’a akan sia-sia, dan begitu juga sebaliknya do’a tanpa usaha atau bekerja adalah mimpi atau angan-angan belaka. Suami harus berusaha mencari nafkah untuk menghidupi istrinya. Suami dan istri harus dapat bekerja sama untuk melindungi perjalanan yang panjang, seorang suami tahu kebutuhan istri dan begitu sebaliknya istri tahu kebutuhan suami. Dengan demikian, akan terbangun sikap saling menghargai dan toleransi dalam berumah tangga. Sifat ini dinamakan tasamuh .

Ketujuh mutiara ini, dinamakan “Resep agar tetap bahagia”, bertujuan yang jelas, pasti, dan sampai dengan selamat di atas Ridho Ilahi Robbi.Semoga Allah memberkahi pernikahan ananda berdua”, amien yaa robbal ‘alamiieen.

Tulisan ini, konsep awalnya ditulis oleh KH. Muhadi Zainuddin, Lc., M.Ag, kemudian ditambah dan diperluas oleh Hujair AH. Sanaky.
Sumber: www.sanaky.com
Shared By Catatan Catatan Islami Pages

HIMPUNAN AHLI RIAS PENGANTIN INDONESIA (HARPI) MELATI


Makna Logo Harpi Melati :
  1. Bentuk logo persegi lima, artinya bahwa organisasi HARPI “MELATI” berazaskan Pancasila
  2. Terdapat Mahkota pada puncak , bermakna ingin mencapai cita-cita yang tinggi
  3. Bunga Melati, bermakna organisasi akan seharum bunga melati
SEJARAH HARPI MELATI

Menjelang tahun lima puluhan setelah kemerdekaan Indonesia oleh pasangan Bung Karno dan Bung Hatta, gerakan Wanita Indonesia semakin tampak. Perkumpulan wanita banyak berdiri yang sifatnya sosial dan gotong royong dari berbagai kalangan tanpa memandang SUKU, RAS dan AGAMA, saling bertemu, saling memperhatikan kebutuhan pihak lain, bertukar pengalaman, bertukar kepandaian, bertukar ilmu dan ketrampilan sehingga menjadi satu hati satu pemikiran.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta kita kenal para EMPU Tata Rias Pengantin antara lain : Ibu ( alm) Pradjoko, Ibu (alm) Donolobo, Ibu (alm) Trenggono, Ibu M. Sardjono, yang kesemuanya dikenal sebagai Perias Kraton Yogyakarta. Juga Perias dari Puro Pakualaman yang kondang saat itu adalah Ibu BRA Indrosugondo.

Dari kota Solo kita kenal Ibu Abdulah dan Ibu Nurdin, Ibu (alm) Pandoyo Sudarmo, Ibu Wiyadi, Ibu Gunardjo, Ibu Naniek Saryoto. Pada tahun-tahun tersebut lahir pula di Solo Ikatan Ahli RIas Pengantin (IATRIP) dengan ketua I Ibu Subari Partowiyoto, dilanjutkan oleh Ibu Naniek Saryoto. Era tahun enam puluhan sampai tujuh puluh bertumbuhlah perkumpulan para Perias Pengantin yang mempunyai tujuan yang sama, menggali dan melestarikan Budaya Daerah, khususnya melalui dunia Tata Rias Pengantin. Kita mengenal :
  1. PP 16 (singkatan dari Perias Pengantin yang lahir pada tanggal 16, Ketua : Ibu BRA. Gondo Kusumo-Hasta Nata ( singkatan dari Himpunan Ahli Tata Rias dan Busana Daerah) dengan ketua Umum Bapak Drs. Sumardi, sampai saat ini.
  2. IKARIB dari Jawa Barat dengan ketua Ibu Rd. Tien Atang
  3. Program Kerja (POKJA II PKK ) dibawah arahan Ibu Supardjo Rustam, menambah makin luasnya para pecinta Dunia Tata Rias Pengantin. Tahun 1968 sudah mulai digalakkan sampai kepelosok RT/RW, tingkat Kelurahan, tentang ketrampilan ini.
  4. SUPROBO (nama seorang tokoh DEWI/BIDADARI yang cantik dan menjadi tokoh pimpinan para bidadari dalam cerita pewayangan).
Di Jakarta lahir pula perkumpulan ibu-ibu Para Perias Pengantin. Adapun para pemrakarsa dan pendiri HARPI “MELATI” antara lain : Ibu (alm) Sofyan, Ibu (alm) Marzuki, Ibu (alm) H.S. Abadi, Ibu H. As Jafar (sekarang ketua Umum Tiara Kusuma). Bahkan dari Jawa Barat, untuk kota Bandung kitapun mengenal Ibu (alm) Dana Sutisna, Ibu (alm) R Atang Supriyatna, Ibu (alm) Ratu Hendani Utami, Ibu Rd. Naniek R. Kesuma, Ibu Dra. Sumarni Suhendi. Di era lima puluhan sampai enam puluhan, perkumpulan kaum ibu tidak hanya bersifat sosial tetapi sudah merebak pada masalah budaya daerah, diantaranya adalah Budaya Tata Rias Pengantin.

Dengan tujuan menertibkan organisasi-organisasi profesi yang telah memiliki AD/ART maka Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Olah Raga (namanya pada saat itu) dengan Bapak DIRJEN DIKLUSEPORA Prof. DR. W. Napitupulu dileburlah organisasi-organisasi profesi dijadikan SATU WADAH. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Kirana Hall, Hotel Kartika Candra - Jakarta, pada bulan Desember 1981 yang dihadiri oleh tokoh perias seluruh tanah air. Tokoh Direktorat Pendidikan Masyarakat yang juga berperan dalam terbentuknya IPPI adalah Bapak Drs. Anwar Iskandar, Ibu Dra. H. Ina Roeswanto. Di Kantor Wilayah Dikmas Depdikbud yang berperan adalah Bapak Drs. Anthon Siahaan dalam memprakarsai lahirnya “MELATI”.

Kata “MELATI” merupakan singkatan dari : MEMETRI artinya melestarikan LANGGENG artinya abadi TOTO CORO artinya tata cara INDONESIA Dan merupakan bunga yang “Harum” dengan maksud harapannya para tokoh saat itu seharum itu pula organisasi ini.

Pada MUNAS I Pagelaran Tata Rias Pengantin, semua mengenakan Bunga Melati, sehingga bunga Melati merupakan perwujudan Bunga Indonesia. Nama ini diusulkan dari Wakil Jawa Tengah, Ibu Naniek Saryoto, yang disetujui ibu (alm) H.S. Abadi, disaksikan ibu H. Ina Ruswanto.

Maka LAHIRLAH ORGANISASI PROFESI RIAS PENGANTIN tingkat Nasional yang baru dengan nama Ikatan Perias Pengantin Indonesia “MELATI” (disingkat IPPI “MELATI”), terpilih sebagai ketua Umum Ibu H.S. Abadi. Itulah yang terjadi pada musyawarah Nasional I.

Sebagai Pedoman Organisasi adalah AD/ART, yang mengatakan jabatan ketua umum dapat disandang sampai 2 (dua) periode. Maka menjabatlah Ibu H.S. Abadi dari tahun 1981 s/d tahun 1990. Satu periode lamanya empat tahun, demikian yang tertuang dalam AD/ART

Kemudian organisasi tersebut berubah nama menjadi Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati  disingkat "HARPI MELATI"

 Sumber : Informasi Organisasi/ Asosiasi Profesi Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini, Non Formal & Informal Kementerian Pendidikan & Kebudayaan

Trendi dan Syar’i dengan Henna


SENI melukis kulit tubuh atau tato biasanya menggunakan bahan-bahan yang tidak diperbolehkan ajaran agama. Namun, kini dengan henna, siapa pun yang ingin mempercantik penampilan lewat seni melukis kulit bisa tetap tenang dan aman menggunakannya.
Karena selain berbahan alami, henna juga tidak melanggar ajaran agama bahkan dianjurkan. Misalnya, bagi pengantin. Henna yang berasal dari daun sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu.
Tepatnya sebelum masyarakat mengenal alat-alat kosmetika kecantikan yang modern seperti sekarang ini. Keberadaan henna dari tahun ke tahun terus eksis. Sehingga semakin dilirik oleh peminatnya, baik untuk pernikahan maupun sekadar bergaya.
Pemilik Tara Wedding and Catering Yenny Wiwisahastu Duostara mengungkapkan bahwa henna di Indonesia lebih akrab disebut pacar atau inai. ’’Bentuk dan variasinya beragam dari setiap daerah di nusantara. Desain gambar atau lukisannya pun sangat variatif. Tak jarang memiliki arti yang berbeda bagi masing-masing kebudayaan atau daerah,” paparnya.
Karena hampir semua suku di Indonesia memiliki tradisi mengenai inai atau pacar saat melangsungkan pernikahan, terutama mempelai perempuan. Ia melanjutkan, henna selain memiliki corak dan warna yang variatif, juga bisa digunakan di bagian tubuh mana pun karena aman, termasuk di wajah. Yenny mencontohkan, desain pada telapak dan punggung tangan yang penuh adalah yang sangat banyak dipilih penggunanya. ’’Biasanya untuk melukis dengan motif yang sangat mikro dan penuh dengan detail menggunakan pasta henna,” tuturnya.
Sedangkan untuk produk yang impor, henna pasta yang paling banyak dipakai yakni henna India. Demikian pula motifnya, banyak yang suka batik atau motif tradisional ala India. ’’Motif seperti itu banyak disukai, apalagi motif dari India yang gampang dibentuk,” sebutnya.
Desain henna India, lanjut Yenny, biasanya besar dengan pola bunga di tangan, bergaris tipis untuk pola yang berbeda, serta bunga dan paisley yang menutupi seluruh tangan hingga pangkal lengan. ’’Ada juga henna dengan motif yang sangat tradisional seperti segitiga dan garis besar,’’ ujarnya.
Sedangkan henna tatto untuk kaki biasanya disesuaikan dengan jenis dan motif yang dipakai pada tangan. Hal itu sekaligus untuk membuat gambar henna serasi dengan yang di tangan.
Namun, ada juga desain khusus untuk kaki. ’’Henna untuk kaki bisanya melibatkan lukisan cantik dan rumit dengan pola dan warna-warna tertentu seperti merah atau  warna daun. Menerapkan desain henna pada kaki sedikit lebih sulit, tapi dapat dibuat dengan mudah bila berkonsentrasi,’’ ucapnya.
Henna biasanya dapat bertahan sampai sepekan. ’’Untuk menjaga agar warna tetap cerah dan bertahan lama, oleskan minyak kayu putih di bagian tangan atau kaki sebelum dicat dengan henna,” sarannya.
Menurutnya, selama menggunakan henna, hindari pemakaian lotion di tangan atau anggota tubuh lain yang terdapat henna. ’’Sebelum menggunakan henna, jangan pakai lotion. Nantinya henna tidak akan meresap di kulit sehingga henna tidak bisa membentuk sesuai desainnya,’’ saran Yenny.
Desain henna dengan corak yang variatif juga terdiri atas beberapa jenis desain. Yang paling terkenal adalah desain Arab, India, Pakistan, dan Afrika. ’’Desain-desain itu menjadi kiblat dari desain henna di seluruh dunia. Ada pula beberapa karakteristik yang membedakan motif-motif itu. Seperti desain henna dari India yang paling populer daripada yang lain. Ini karena motifnya yang beragam. Ada desain sederhana sampai yang rumit. Sedangkan desain Arab lebih sederhana dengan ciri motif bunga dan daun. Kemudian desain Afrika sejenis dengan desain Arab yang tidak terlalu berisi. Desain itu biasanya sederhana, namun cantik,” ungkapnya. (nur/c2/tru)
Radar Lampung - Rabu, 24 Oktober 2012 # POSTED BY: Ayep Kancee
 

CARA MEMILIH SANGGAR RIAS PENGANTIN

Banyak di antara kita yang saat ini sibuk mempersiapkan pesta pernikahan. Tentunya yang menjadi prioritas Anda adalah memilih sanggar rias pengantin yang tepat, karena anda akan menjadi raja dan ratu sehari. Oleh karena itu anda wajib tampil sesempurna mungkin.

Untuk memilih perias pengantin yang tepat dalam momen yang sangat sakral dan spesial tidaklah mudah. sebaiknya anda mencari dan meminta rekomendasi dari saudara,tetangga atau teman yang sudah menikah. Banyak point yang perlu menjadi perhatian anda adalah contoh riasnya,harga dan paketnya, serta cara merias yang dilakukan perias ketika merias calon pengantin. Banyak orang yang mencari kenyamanan ketika dirias oleh perias pengantin. Karena umumnya perias pengantin mempunyai cara sendiri ketika merias,diantaranya ada yang melarang calon pengantin untuk berbicara dan melihat kaca, ada yang mau dan tidak mau menerima masukan dan ada juga yang perias “galak”. Oleh karena itu ada beberapa tips untuk memilih perias pengantin yang hasilnya akan memuaskan anda,yakni: 

1.  Mencari referensi dari berbagai sumber. 

Sebaiknya anda banyak bertanya kepada saudara,tetangga dan teman yang sudah pernah menikah atau melihat hasilnya. Karena informasi dari orang yang anda percaya akan sangat membantu dalam memilih perias pengantin. Selain itu anda juga harus banyak mencari info melalui media massa seperti majalah,koran dan internet yang memberikan informasi mengenai make up pengantin.

2.  Mencoba untuk melakukan tes make up.

Banyak perias pengantin yang menolak untuk melakukan tes make up pengantin terlebih dahulu. Namun anda tidak usah berputus asa karena cobalah untuk menyiasatinya dengan cara meminta sanggar rias pengantin tersebut untuk merias anda ketika anda akan menghadiri pesta pernikahan,wisuda, dan acara formil lainnya. Memang dengan cara ini akan memerlukan dana ekstra,tetapi anda akan puas ketika sudah mengetahui dan merasakan hasil dan tata cara perias pengantin yang akan menjadi target anda.

3. Sampaikan keinginan anda.

Ketika anda sudah menentukan pilihan perias pengantin berdiskusilah di sanggar riaspengantin miliknya. Sampaikan keinginan anda tentang make up pengantin yang anda inginkan,anda juga bisa melihat koleksi foto hasil rias pengantin dari perias pengantin tersebut.Buatlah janji dengan perias pengantin tersebut jauh-jauh hari sebelum hari H,karena dikhawatirkan jadwal pernikahan anda bentrok dengan jadwal perias pengantin tersebut. Anda juga bisa membawa contoh make up pengantin yang anda suka dan biasanya perias pengantin akan memberikan informasi dan masukan yang terbaik untuk anda. Tak kalah pentingnya, anda harus berterus terang bila anda merasa tidak setuju dengan masukan yang diberikan perias pengantin tentang make up pengantin yang disampaikannya. Tentunya ketika anda menjadi raja dan ratu sehari ingin tampil semaksimal mungkin dengan memilih sanggar rias pengantin yang cocok dengan make up pengantin yang sesuai dengan keinginan anda setelah berdiskusi dengan perias pengantin pilihan anda.
4. Harga tidak menetukan segalanya.

Harga rias pengantin yang mahal belum tentu hasil make up pengantin nya juga bagus. Kalau anda jeli mencari perias pengantin yang bagus dengan harga terjangkau dengan budget anda tentunya akan menjadi kepuasan tersendiri untuk anda dan keluarga.


sumber:duniawedding.com

Seminar dan Lomba Ngadi Saliro & Ngadi Busono DPC Harpi Melati Kota Bandar Lampung dalam rangka memperingati Hari Kartini Tahun 2013 tanggal 30 April 2013 di Hotel Kurnia 2 Bandar Lampung


DUH, CANTIKNYA...: Para peserta lomba ngadi saliro dan ngadi busono. FOTO ANGGI RHAISA

Trilogi Kecantikan Total  
Ngadi saliro dan ngadi busono merupakan falsafah Jawa tentang perawatan kecantikan yang menyeluruh (total beauty) yang terdiri atas trilogi keanggunan perempuan Indonesia. Yaitu ngadi saliro, ngadi busono, dan tata krama. Kata ngadi saliro dan ngadi busono berasal dari Sanskerta yang artinya mempercantik diri serta memperindah busana.

Dewan Juri sedang mengumumkan hasil lomba
”Sedangkan tata krama mencakup pengertian pembinaan mengenai tata pergaulan dan perilaku perempuan sebagai ibu rumah tangga,” kata Ketua DPC Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati Bandarlampung Sutarti Sutarsum dalam seminar serta lomba ngadi saliro dan ngadi busono di Hotel Kurnia 2, Bandarlampung, kemarin.
Sekretaris DPD HARPI Melati Provinsi Lampung Laila Al-Khusna menambahkan, selain trilogi di atas, masih ada satu konsep bagi perempuan. Yakni wiraga yang menjelaskan tentang cara sikap tubuh yang baik dan benar.
”Dalam berbusana, sebaiknya sesuaikan dengan situasi dan kondisi. Dalam bersikap, sebaiknya kita bisa menunjukkan tubuh yang baik dan benar agar membuat tampilan anggun, menarik, yakin, serta berwibawa. Selain itu, membuat tampak lebih muda dan menunjang kesehatan,” ujar Laila.
Sementara Ketua DPD Ikatan Pengembangan Kepribadian Indonesia (Ipprisia) Lampung Hernaini Nasrullah mengatakan, keserasian seseorang, khususnya perempuan, bukan dilihat dari wajah. Tapi, dilihat melalui  penampilan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sementara karakter seseorang bisa berubah.
”Jika karakter buruk, namun berada di lingkungan yang baik, bisa membuat karakter kita menjadi lebih baik dari sebelumnya,” ungkap Hernaini ketika menjadi narasumber dalam seminar dengan peserta Lembaga Kursus Pendidikan (LKP) Perias Pengantin dan Umum itu.
Direktur Pelaksana LPBM Teknokrat ini menyarankan kepada para penata rias agar dalam membuka usaha terlebih dahulu harus mempunyai kepribadian dan karakteristik tersendiri. Sehingga, itulah yang akan menjadi daya tarik konsumen. Jika pelanggan puas, ia akan terus bertahan. Setidaknya merekomendasikan rekannya.
”Ingat! Sekali gagal, biasanya kita tidak akan dipercaya oleh konsumen. Apalagi khusus rias pengantin, mana ada pengantin yang mau dua kali dirias?” candanya kepada para peserta seminar.
    Jadi, lanjutnya, kesan pertama adalah abadi karena dibentuk dalam sepuluh detik pertama dari suatu pertemuan. Seseorang dinilai  dari kesan pertama, di mana 55 persen penampilan dan bahasa tubuh serta 7 persen kalimat yang diberikan kepada pelanggan. Selebihnya adalah kecantikan yang terpancar dari dalam diri.
Dosen sekaligus tim pengembangan kepribadian Perguruan Tinggi Teknokrat, Tien Yulianti, menambahkan, dalam melayani pelanggan, sebaiknya hindari 3B. Yakni BK (bau kaki), BM (bau mulut), dan BB (bau badan). Bagi pemula, jangan sungkan belajar kepada yang berpengalaman sehingga bisa menjadi tenaga profesional.
    Selain seminar, acara kemarin juga memberikan materi tentang cara mengenakan kain wiron. Yakni mengenakan kain batik yang salah satu ujungnya diwiru atau dilipat-lipat seperti kipas. Biasanya dipakai sebagai setelan dari kebaya. Juga terdapat beauty class oleh tim dari Sari Ayu Martha Tilaar  menggunakan makeup natural.
    Di akhir acara terdapat perlombaan ngadi saliro dan ngadi busono yang berlangsung seru. Perlombaan dibagi menjadi dua kategori, yaitu bersanggul dengan usia 31–50 tahun dan kategori jilbab 17–30 tahun. Waktu yang diberikan kepada peserta hanya 45 menit. Terbayang kan serunya seperti apa? (cw1/p6/c2/dna)
 Radar Lampung - Rabu, 1 Mei 2013